saya pernah diajari bagaimana melihat dengan mata tenang oleh Edwin Anggadinata. saya pernah diajari bagaimana jadi seseorang yang tangguh seperti Ada Deabryna. saya pernah diajari bagaimana caranya menyikapi tantangan oleh Joshi Mayer. saya pernah dilatih untuk melalui ambang batas kemampuan oleh Andreas Benhur Sumerlan Purba. saya pernah diperlihatkan kekuatan kombinasi keinginan dan kerja keras oleh Osha Adyancha. saya pernah diajari bagaimana menghadapi kegentingan oleh Barry Irawan. saya pernah bekerjasama dengan manusia seperfeksionis Nurul Salira Utami. saya pernah ditempa oleh manusia sekeras Lorestoni Pardede. saya pernah bekerja di bawah manusia tidak kenal lelah seperti Roni Heilig Marpaung. saya pernah diajari tentang kenikmatan memberi oleh Riandi Apriliansyah. saya pernah berdampingan dengan wanita seberani Rachmi Siti Awlyanti. saya punya wakil-wakil sehebat Alvin Saptamandra Suryohadiprojo dan Nurul Fatimah Khasbullah. saya memiliki pengingat yang sabar luar bisa seperti Famelia Pratiwi. Saya memiliki pekerja-pekerja luar biasa seperti Akmal Ramadhani dan Tsara Izzati. saya memiliki kakak-kakak, kawan-kawan, serta adik-adik yang selalu mengingatkan, memberi semangat, tersenyum, menyapa, menyediakan sarapan tanpa diminta atau bahkan menyediakan tempat untuk tidur. apalagi yang bisa saya minta? ditambah Saya memiliki teman hidup sejenius Mochamad Luthfan Fauzi Akbar. Lalu, ketika sekitar 5 bulan lalu ratusan orang berdiri, bertepuk tangan, tersenyum, menyalami seraya menitipkan amanah serta doanya kepada saya, ada alasan bagi saya untuk tidak bersyukur atas mereka sekarang? semuanya, tidak ada yang sia-sia, karena jika semuanya mudah saja, untuk apa kita hidup kan?