lihatlah kembali rekaman perjalanan lebih dari seribu hari yang kita isi
di negeri yang kita pijak, di lorong gelap sebuah situs lama yang akan selalu membuat kita tersenyum akannya.
masa penuh absurditas
ketika hari pertama melangkahkan kaki, cukup terlihat visi dari setiap insani,
untuk siap menantang hari,
untuk siap bermandikan peluh,
menangkis pengharapan, membentuk idealisme, untuk meniti masa depan,
kendati rasa asing tak tertutupi.
kita hanya sebuah partikel kecil di dalamnya.
sesaat,
dunia kita tinggalkan
tak peduli semua
yang penting ego kita tersalurkan terhadap apa yang kita suka.
semua orang terus mencaci, seakan mereka yang paling benar.
iya kita terdiam
mungkin inilah yang bunda bilang sebuah pembelajaran tentantg kedewasaan.
tapi visi bersama otak kita tidak membuat itu menjadi stagnasi yang berkepanjangan.
maka lahirlah karya kita.
itu sukacita kita.
Apakah setiap manusia yang berusia sama dengan kita merasa benar-benar hidup seperti kita ?
merasa hidup yang sangat fantastis, yang sangat superior.
hidup bersama kalian cukup untuk membuat otak membentuk perspektif baru tentang definisi kenormalan
karena hidup kita abnormal, kata orang.
katamu dunia ini lalui saja, tanpa rasa berat di kaki atau perputaran kata di otak.
aroganmu, naifku
ulahmu, manjaku
sabdamu, celotehku
tetap selalu di situ
di kumparan waktu yang tiba-tiba berhenti, memaksa kita sejenak mengakui takdir Sang Ilahi
keabadian paling hakiki hanya milik-Nya.
Mungkin karena itulah konsep ‘berpisah’ terlontarkan.
ucapkan syukur, bukakan mata, tetapkan hati
bahwa konsep tersebut yang akan membawa langkah kita menjadi lebih jauh,
menuju utopia kehidupan.
itu kan yang ingin kita capai ketika kita ditantang oleh arogansi tanah ini ?
jangan khawatir teman, karena semuanya sudah cukup baik terangkum dalam sebuah cerita,
yang mengantarkan kita menuju kesempurnaan yang masif,
cerita tentang 1000 hari kita di Negeri TIGA.
*akafajarettanurafia
18 maret 2008, 02:20